[Mohamad Firman Hadi] Husnudzan Kepada Allah Sang Maha Pencipta

Mohamad Firman Hadi/ 1112051100038/ fvierman.jurno@gmail.com/ 08977127917
Artikel 3/ Jurnalistik/ 2B

Husnudzan kepada Allah Ta’ala merupakan ibadah hati yang paling jelas. Namun ini tidak dipahami oleh kebanyakan orang. Husnudzan (berperasangkan baik) kepada Allah adalah meyakini Asma’, sifat serta perbuatan Allah yang layak bagi-Nya. Sebuah keyakinan yang menuntut pengaruh yang  nyata. Misalnya, meyakini bahwa Allah merahmati semua hamba-Nya dan memaafkan mereka jika mereka bertaubat dan kembali kepada-Nya. Allah akan menerima amal ketaatan dan ibadah mereka. Serta meyakini, Allah mempunyai hikmah yang sempurna dalam setiap yang Dia takdirkan dan tentukan.

Bagi kita yang menyakini bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Sang Maha Pencipta, akan sangat bersyukur bila merenungi bahwa kenikmatan hidup di dunia adalah rahmat dari-Nya. Dunia beserta isinya merupakan salah satu rahmat yang diberikan Sang Maha Pencipta kepada mahluk-mahluknya, masih ada 99 rahmat Allah yang akan diberikan di akhirat nanti.

Dapat dikatakan bahwa manusia sebagai hamba-Nya diberi satu ujian dengan satu kenikmatan di dunia dan apabila ujian tersebut berhasil, akan diberikan reward yaitu 99 rahmat lainnya yang ada setelah kiamat dan hancurnya dunia ini, ke-99 rahmat itu berupa surga beserta isinya. Untuk itu kita wajib bersangka baik kepada Sang Maha Pencipta.

Bagaimana kita dapat bersyukur kalau hati kita tidak memiliki prasngka baik kepada Sang Maha Pencipta, mungkin baru diberikan Al Qur’an sudah menyakini tidak benar dan dianggap itu hanya karangan Nabi Muhammad SAW. Disuruh untuk berpuasa, shalat, dan berzakat tidak dilaksanakan, males lah alasannya, nggak kuat lah. namun kebalikannya diharamkan memakan babi, minum-minuman keras, dan berzina, malah dilakukan. Padahal begitu banyak kebaikan dibalik semua perintah tersebut bila kita menyadarinya.

Bersangka baik dengan menganggap bahwa Allah menurunkan Al Qur’an dan rasul-rasulnya (utusannya) akan membuat kita menjadi orang yang bertakwa kepada-Nya dan berusaha melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Dan apabila bersangka buruk kepada-Nya, ciptaannya, dan utusannya akan membuat kita khilaf dan mencintai dunia, para utusan Allah dibunuh, kitab sucinya dibakar dan disulap sesuai nafsunya, akibatnya kita akan makin jauh dari-Nya.

Sebagai manusia, hamba-Nya yang lemah haruskah menentangnya. Sang Maha Pencipta menurunkan Al Qur’an sebagai pedoman bagi umat manusia, manusia malah menciptakan kitab-kitab lain yang membuat kita semakin jauh darinya. Saat ini dapat kita lihat bagaimana manusia telah menistakan Al Qur’an dan Nabi Muhammad SAW yang dipilihnya diantara manusia lain sebelumnya.

Dari penjelasan di atas, husnuzan kepada Allah tidak terjadidengan meninggalkan perkara wajib dan mengerjakan kemaksiatan. Siapa yang meyakini hal itu bermanfaat baginya maka ia tidak menetapkan sebagian dari nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah yang layak dan sesuai bagi-Nya. Sungguh ia telah mengelincirkan dirinya pada keburukan dan perangkap syetan. Sementara orang-orang beriman, secara bersamaan memperbagus amalnya dan memperbagus perasangkanya kepada Allah bahwa Dia akan menerima amal-amal shalihnya. Dan saat menghadapi kematian, mereka berperasangka baik kepada Allah bahwa Dia memaafkan kesalahan dan mengampuni dosa-dosanya serta merahmatinya. Diharapkan, Allah mewujudkan perangka baiknya tersebut kepada mereka sebagaimana yang sudah dijanjikan oleh-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s