PUNCAK PENGALAMAN PERTEMUAN DENGAN ALLAH ITU MENJADI HAMBA ALLAH

Artikel 4 akhir Mei 2013

 BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM

 

Allah SWT. itu Pemilik segala yang ada di langit dan di bumi dan di antara keduanya (QS. 2:255; 20:6). Allah SWT. itu Maha Kuasa, Maha Penolong, Maha Pelindung, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (QS. 1:1-7) dengan pemberian karunia-Nya kepada manusia yang tidak terhitung banyaknya (QS. 16:18). Karenanya, dalam kenyataan  yang sebenarnya manusia itu tidak bisa hidup, bergerak, dan beraktifitas tanpa pertolongan Allah dan tanpa kekuatan Allah yang tidak terbatas.

Oleh sebab itu, andaikan manusia itu mengetahui bisa tahu, kenal, dekat, bertemu Allah, dan menjadi kekasih Allah di dunia ini, maka semua orang pasti ingin mengetahui, mengenal, dekat, bertemu Allah, dan menjadi kekasih Allah di dunia ini.

Itulah sebabnya, Allah mengirimkan para malaikat, kitab suci, para Nabi dan Rasul-Nya agar manusia bisa mengetahui, mengenal, dekat dengan Allah (QS.2:186), bertemu Allah (QS. 29:5) dan menjadi kekasih Allah (QS. 3:31) di dunia ini, agar manusia bisa memperoleh kebahagiaan yang kekal abadi, dan agar manusia tidak menyesal setelah mati (QS.23:99-100).

Dengan demikian harus ada upaya yang konstruktif, terencana, terprogram, terus menerus, dan berkelanjutan agar manusia bisa mengetaui, mengenal, dekat, bertemu Allah, dan menjadi kekasih Allah di dunia ini. Untuk itu, Pusat Kajian Liqa’ Allah menyelenggarakan Program Pendalaman Pemahaman dan Peningkatan Pengalaman Keagamaan dalam rangka penguatan iman dan pemantapan aqidah, serta dalam rangka peningkatan kualitas tauhid, taqwa, dan tawakal.

Allah SWT. menciptakan manusia tujuannya untuk beribadah, menyembah Allah, dan menjadi hamba Allah: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. 51:56).

Puncak pengalaman pertemuan dengan Allah adalah menjadi hamba Allah. Hanya hamba Allah yang bisa menjadi kekasih Allah, dan hanya kekasih Allah yang bisa menjadi khalifah-Nya yaitu wakil Allah di muka bumi.

Hamba Allah adalah orang yang mengetahui dan menyadari bahwa segala yang ada di langit dan di bumi itu milik Allah, termasuk jiwa-raga, dan dirinya sendiri (QS. 2:255; 20:6). Hamba Allah adalah orang yang mengetahui dan menyadari bahwa Allah itu Pemilik, Penguasa, Pengatur, Penjaga, Pemelihara, Pembimbing, Penolong, Pelindung, dan Yang Mengurus seluruh ciptaan-Nya.

Hamba Allah adalah orang yang bisa menjalin hubungan pribadi dengan Allah melalui tauhid. Hamba Allah adalah orang yang bisa bermitra kerja dengan yang Maha Kuasa melalui taqwa. Hamba Allah adalah orang bisa bersinergi dengan kekuatan Allah yang tidak terbatas melalui tawakal.

Hamba Allah adalah orang yang bertauhid, bertaqwa, dan bertawakal. Bukan hanya tauhid, taqwa, dan tawakal sebagai keyakinan dan pernyataan, tetapi juga tauhid, taqwa, dan tawakal sebagai kenyataan atau sebagai ekspresi Realitas yang sebenarnya.

Dengan bertawakal sebagai kenyataan atau dalam tataran kenyataan, manusia bisa merasa satu kekuatan dengan kekuatan Allah yang tak terbatas dan tidak terbagi, karena dalam kenyataannya memang tidak ada kekuatan kecuali kekuatan Allah yang tak terbatas (Laa haula wa laa quwwata illa billah).

Dengan bertaqwa dalam tataran kenyataan atau sebagai kenyataan, manusia bisa merasa satu kehendak dengan kehendak Allah, karena dalam kenyataannya manusia memang tidak bisa menghendaki jika Allah tidak menghendaki manusia bisa berkehendak. “Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” (QS. 81:29).

Dengan bertauhid dalam tataran kenyataan atau sebagai kenyataan, manusia bisa merasa satu pengetahuan dengan pengetahuan Allah, karena segala sesuatu berasal dari Allah dan kembalinya juga kepada Allah (termasuk semua pengetauan) (QS. 2:156).

Cara mudah dan terbaik untuk bisa merasa satu kekuatan dengan kekuatan Allah, merasa satu kehendak dengan kehendak Allah, dan merasa satu pengetahuan dengan pengetahuan Allah adalah shalat yang khusyuk.

Dalam shalat yang khusyuk, manusia itu berada di hadirat Allah, sedang menghadap Allah, sedang menemui Allah, sedang berbicara dengan Allah, dan sedang berdoa kepada Allah (QS. 2:45-46). Itulah sebabnya, Rasulullah menjelaskan bahwa shalat itu “Mi’rajul mukminin” (Mi’rajnya orang-orang yang beriman)

Dalam shalat yang khusyuk, manusia bisa merasa mengetahui dengan pengetauan Allah, manusia bisa merasa menghendaki dengan kehendak Allah, dan dalam shalat yang khusyuk manusia bisa merasakan seluruh aktifitasnya dalam shalat, yaitu seluruh gerakan dan bacaan dalam shalatnya berlangsung dengan Qudrah, Iradah, dan Ilmu Allah.

Dengan kata lain, shalat yang khusyuk adalah shalat yang dikerjakan dengan hati yang penuh perasaan, yaitu perasaan sedang berada di hadirat Allah, perasaan sedang menghadap Allah, dan perasaan sedang berbicara, berkomunikasi, dan berdoa kepada Allah.

Oleh sebab itu, jika shalat itu dikerjakan dengan khusyuk pasti bisa mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar, karena jika manusia khusyuk dalam shalatnya dan di luar shalatnya, maka dia pasti bisa selalu merasa dekat dengan Allah (Qurbah), pasti bisa merasa selalu bersama Allah (Ma’iyah), pasti bisa merasakan dan mengalami pertemuan dengan Allah (Liqa’ Allah), pasti bisa merasa mencintai Allah, dicintai Allah, dan menjadi kekasih Allah (Mahabbah).

Dengan demikian jelaslah bahwa puncak pengalaman pertemuan dengan Allah itu menjadi hamba Allah. Itulah puncak pengalaman pertemuan dengan Allah yang tertinggi. Itulah sebabnya Nabi Muhammad sebagai manusia yang telah mencapai puncak pengalaman keagamaan yang paling tinggi dan paling sempurna disebut sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya (“Abduhu wa Rasuluhu). Sedangkan puncak pengalaman keagamaan tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia selain Nabi dan Rasul-Nya adalah hamba dan khalifah-Nya.

Akhirnya, semoga Allah SWT. memberi kita semua kekuatan dan kesanggupan serta memudahkan kita semua untuk bisa mengenal Allah, bisa selalu merasa dekat dengan Allah, selalu merasa bersama Allah, bisa merasakan dan mengalami pertemuan dengan Allah (Liqa’ Allah), bisa menjadi hamba Allah dan bisa selalu merasa mencintai, dincintai, dan menjadi kekasih Allah. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin wa Yaa Mujiibas Saailiin Walhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin.

Jakarta, 24-5-2013

S. Hamdani

Alamat webs: kajianliqa’allah.webs.com atau klik kata kunci Pusat Kajian Liqa’ Allah,

atau bisa copy kumpulan brosurnya, dan mengikuti program kajiannya, email: hamniah@gmail.com/08158824119

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s