[Hilda Dziah Azqiah SM] SYAHADAT DAN IMAN

Hilda Dziah Azqiah SM/ 111205110035/ dziah.azkia@yahoo.com/ 083899606318

Artikel 3/ Jurnalistik 2B

Dua kalimat syahadat. Ada tiga tuntutan dua kalimah syahadat yaitu: Pengucapan, pengi’tiqadan, pengamalan.

Maka jika dua kalimah syahadat yang merupakan rukun islam, hanya diucapkan tanpa dii’tiqadkan, niscaya dua kalimah syahadat itu belum lengkap, sehingga pada hakikatnya tidak sah di sisi Allah di gunakan untuk ber_islam”, sebagaimana wudhu’  tidak sah digunakan untuk bershalat, sebelum wudhu’ itu lengkap, walaupun hanya tinggal mencuci ujung kaki.

Pelajaran kalimat tauhid dan dua kalimah syahadat itu, memerlukan ketekunan dan waktu. Mengingat ar-rasul sayyidana muhammad saw. Menyampaikan di makkah lebih dari 12 tahun. Padahal, hanya beliau yang paling cerdas menyampaikannya, dan para sahabatlah yang paling cerdas memahaminya. Itu, juga menunjukkan bahwa kalimat tauhid dan dua kalimah syahadat itu adalah yang paling penting dan yang menentukan sah atau batalnya keislaman seseorang di sisi Allah.

Terjemahan syahadat pada bahasa, adalah penyaksian. Dan tingkatan syahadat/penyaksian itu, lebih tinggi dari pengakuan. Karena, setiap syahadat/penyaksian itu, lebih tinggi dari pengukuan. Karena, setiap yang bersaksi itu pasti mengaku, dan setiap yang mengaku itu tidak pasti bersaksi. Maka dari itu, juga dapat dipahami, bahwa setiap penyaksi” yang tidak mengaku, adalah “penyaksi palsu”.

Semoga Allah memelihara kita dari prasangka, bahwa masih ada muslim mukallaf yang belum melengkapi dua kalimah syahadatnya. Yang penting bagi kita, mengulang-ulangi pelajaran islam. Karena, pelajaran islam itu, walaupun telah diketahui, dan telah diamalkan, namun mempelajarinya tetap berpahala, utamanya pelajaran kalimah tauhid dan dua kalimah syahadat.

Rasulullah saw. Bersabda:

“perbaharuilah iman kalian, dikatakan: hai rasulullah bagaimanaa kami dapat memperbaharui iman kami? Rasul bersabda: berbanyak dari ucapan lailaha illah”. (al-hakim: 7657).

Dan semoga rangkaian ini bukan untuk menilai muslim siapapun. Karena, aqidah itu dalam qalbu, tetapi semoga Allah memberi kita hidayah & taufiq berupa i’tiqad dan keyakinan, bahwa kita masih tetap dalam islam.

Agar seseorang mengenal diri secara benar, maka dia hendaklah beriman dengan jalan memahaminya. Karena, tampa iman kenal diri adalah palsu, dan apa saja yang disampaikan oleh masyayikh/guru-guru dari mas’alah islam, itu hanya bagaikan nayayian-nyanyian. Semoga Allah memberi kita pertolong untuk istiqamah dalam iman dengan memahaminya.

Rasullullah saw. Bersabda:

(“Iman itu) bahwa engkau beriman kepada Allah dan para malaikat-nya dan para rasulnya dan hari akhirat dan engkau beriman kepada takdir yang baiknya dan yang buruknya”. (muslim : 93).

Tingkatan iman itu, adalah di atas tingkatan ilmu. Karena, setiap orang yang beriman itu pasti berilmu, dan tidak setiap orang yang berilmu itu pasti beriman. Contoh fir’aun berilmu tetapi dia tidak beriman.

Dan sebagaian dari ilmu itu, adalah ilmu pasti. Contoh : 2 + 2 = 4, yang kepastiannya dalam qalbu tidak dapat di goda.

Dan bagaimanapun kepastian ilmu pasti itu, tetaplah ilmu. Berarti, hakikat iman itu lebih pasti dari kepastian ilmu pasti, yang berarti iman itu lebih tidak dapat di goda, tetapi manusialah yang dapat dogoda oleh godaan-godaan. Karena, kenyataan iman itu di dunia, tidak seperti kenyataan ilmu pasti, dan iman itu adalah mas’alah yang gaib, yang tidak dapat dicapai atau dijangkau oleh hanya semata-mata ilmu.

IMAN ITU ADALAH UCAPAN LISAN, I’TIQAD QALBU, DAN DIBUKTIKAN OLEH AMAL

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s